6/06/2014

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

  • Istilah ABK : Disability adalah kurang atau hilangnya fungsi organ ; Handicap adalah dampaknya dari kerusakan ; At Risk sebenarnya tidak ada kerusakan tetapi berpeluang untuk mengalami hambatan jika tidak ada penanganan khusus, contohnya autis, gifted.
  • Pendidikan ABK adalah instruksi yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari siswa berkebutuhan khusus. Tujuan: mengembangkan anak sebagai pribadi yang mandiri; mengembangkan anak sebagai anggota masyarakat; memilih ketrampilan untuk bekerja; mempersiapkan anak untuk mengikuti pendidikan lanjutan.
Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu? Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut:
1.  Gangguan Indra
a. Gangguan penglihatan. Anak-anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen di mana angka normalnya adalah 20/20). Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita gangguan penglihatan ini adalah menentukan modalitas (seperti sentuhan atau pendengaran) yang dengannya murid dapat belajar dengan baik.
b. Gangguan pendengaran. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori: (1) Pendekatan oral antara lain menggunakan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca). (2) Pendekatan manual adalah dengan bahsa isyarat dan mengeja jari (finger spelling). 

2. Gangguan Fisik
a.  Gangguan ortopedik. Biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot. Gangguan ortopedik bisa disebabkan oleh problem prenatal (dalam kandungan) atau perinatal (menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit atau kecelakaan saat anak-anak.
b.  Gangguan kejang-kejang. Jenis yang sering dijumpai adalah epilepsi, gangguan saraf biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. 

3.  Retardasi Mental
Adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Penyebab retardasi mental adalah faktor genetik dan kerusakan otak. Bentuk RM yang paling umum berdasarkan faktor genetik ialah Down Syndrome, ada juga yang disebut Fragile Syndrome. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena fakto lingkungan luar. 

4. Gangguan Bicara dan Bahasa
a.  Gangguan artikulasi. Problem dalam melafalkan suara secara benar.
b. Gangguan suara. Gangguan dalam menghasilkan ucapan yang keras, kencang, terlalu keras, terlalu tinggi, atau terlalu rendah nadanya.
c.  Gangguan kefasihan. Gangguan yang biasanya disebut “gagap”
d.  Gangguan bahasa. Kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak. (Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman bahasa; bahasa ekspresif adalah menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan berkomunikasi dengan orang lain)

5.  Gangguan Belajar
Ketidakmampuan dimana anak: (1) punya inteligensi normal atau di atas rata-rata; (2) kesulitan setidak-tidaknya dalam satu atau lebih mata pelajaran; (3) tidak punya problem atau gangguan lain, seperti RM, yang menyebabkan kesulitan. Yang paling umum yang menyulitkan anak belajar adalah pelajaran membaca. Dyslexia adalah kerusakan parah dalam kemampuan untuk membaca dan mengeja.

6.  Attention Deficit Hyperactivity Disorder
Ketidakmampuan di mana anak secara konsisten menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut: kurang perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

7. Gangguan Perilaku dan Emosional
Problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosio-emosional. Depresi adalah jenis gangguan mood di mana pengidapnya merasa dirinya sama sekali tidak berharga sama sekali. Kecemasan adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan.

  • Model pendidikan ABK adalah segregasi (sekolah khusus, cth: slb tuna netra), integrasi (ABK diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan anak normal di sekolah reguler) dan inklusi (penempatan ABK di kelas reguler).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar